Perkembangan global saat ini membutuhkan bisnis yang transparan dan penuh tuntutan etika perusahaan tidak cukup hanya mengejar keuntungan. Masyarakat kini ingin tahu apakah perusahaan juga peduli. Apakah mereka bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan, sosial dan tatakelola (ESG). Di sinilah pentingnya memahami konsep piramida CSR Carroll.
Konsep CSR ini bukan sekadar teori namun sebuah peta jalan. Menerapkan konsep ini membantu perusahaan menjalankan tanggung jawab sosial secara menyeluruh dari yang paling dasar hingga yang paling mulia. Bukan sekadar agar terlihat baik tetapi agar benar-benar berdampak.
Piramida CSR Carroll
Model ini pertama kali diperkenalkan oleh Archie B Carroll pada tahun 1991. Tujuannya adalah menyusun secara sistematis berbagai bentuk tanggung jawab perusahaan kepada masyarakat. Piramida ini membantu dunia usaha melihat CSR bukan sebagai satu aktivitas tetapi sebagai struktur berlapis yang saling melengkapi.
Carroll mengingatkan bahwa perusahaan punya kewajiban ekonomi tetapi itu hanya dasar. Di atasnya masih ada lapisan hukum etika dan filantropi. Semua ini harus berjalan seimbang untuk menciptakan bisnis yang sehat dan dihormati.
Empat Lapisan Piramida CSR Carroll yang Harus Diketahui
1. Tanggung jawab ekonomi
Ini adalah dasar dari piramida. Bisnis harus menghasilkan keuntungan. Tanpa profit perusahaan tidak bisa bertahan. Namun Carroll menegaskan bahwa mencari keuntungan bukan berarti mengabaikan nilai dan moral. Dengan framework ESG dan berbasis ISO 26000, Perusahaan dapat memperoleh keuntungan dengan menerapkan Creating Share Value. Contohnya membina UMKM dengan bidang ush
2. Tanggung jawab hukum
Perusahaan wajib mematuhi semua hukum dan regulasi. Ini adalah bentuk tanggung jawab minimum terhadap masyarakat dan pemerintah. Tidak ada toleransi terhadap pelanggaran. Kepatuhan adalah bukti integritas. Perencanaan dan implementasi program CSR mengikuti regulasi global dan nasional, Seperti standard dan regulasi yang ada.
3. Tanggung jawab etika
Inilah level yang mulai membedakan perusahaan biasa dengan yang visioner. Tanggung jawab etika mengajarkan bahwa tidak semua yang legal itu etis. Perusahaan harus bersikap adil jujur dan mempertimbangkan dampak sosial dalam setiap keputusan. Dengan menerapkan Standard Iso 26000 dan ISO ESG, Perusahaan dalam melaksanakan program CSR.4. Tanggung jawab filantropi
Di puncak piramida ada kontribusi sukarela untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ini bukan kewajiban tetapi wujud niat baik dan komitmen sosial. Bentuknya bisa berupa beasiswa pelatihan donasi atau pengembangan komunitas. Program CSR yang bersifat filantropi tetap harus dapat dipertanggungjawabkan dan dapat diukur pengembalian social valuenya.
Kesimpulan:
CSR adalah Pondasi Bisnis Modern
Dengan memahami piramida CSR Carroll kita menyadari bahwa tanggung jawab sosial adalah struktur penting dalam membangun perusahaan yang tidak hanya menguntungkan tetapi juga bermakna.